Pengembangan E-learning dalam Pembelajaran Kimia
Media
pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang
bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media
pembelajaran ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan
prestasiakademik siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak
perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat
diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat
menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim,
2007:5; Kose, 2010:2796).Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam
menyediakan lingkungan/suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh
dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik,
kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan
semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung
perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten
pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk
kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar
masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi semakin luas
dan interaktif seperti penggunaan komputer atau internet. Penggunaan internet
dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning. E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan
komputer lain (Hartley, 2001).
E-learning membuat pembelajaran dapat lebih
terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan
dengan siapa saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang
pembelajaran secara online adalah program LMS (Learning Management System).
Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS) adalah
suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan sebuah
materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik, merekam
data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan
efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar, skenario pembelajaran
perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik
secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka (Hasbullah, 2009).
E-learning pada pembelajaran di sekolah-sekolah
khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa tahun yang lalu.
Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana
untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik. Namun sampai
sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan
bahwa penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja tanpa
menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena
itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya
pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Pengertian e-learning pada umumnya terfokus
pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones
dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu
media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast,
audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT).
E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan
rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan
penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen
menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik,
termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV
interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
Penerapan e-learning banyak variasinya, karena
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono (2007),
menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi
menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana
hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server
dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list
(milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang
dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik,
evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga
menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada
pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet.
Nedelko (2008),
menyatakan ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1. Web Supported
e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung
dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi
pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended or
mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara
tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online
e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online
termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara
online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih banyak dimaknai
sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online. TIK
saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan) yang
memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat.
Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara
lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik.
Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam
penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit
untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. Materi
pembelajaran juga harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara
jelas atau diberikan link ataupun petunjuk sumber pembelajaran yang lain.
Karaktersitik peserta didik juga sangat dibutuhkan karena nilai utama di dalam
e-learning adalah kemandirian.
E-learning membutuhkan model yang harus
didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif. Pengembang, mempunyai kesempatan dalam merencanakan
pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan pengembangan
e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan
dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning. Pengembang
diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin
terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar
yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik
melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam
pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan
dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran
dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam
penstrukturan konten.
Konten e-learning adalah objek yang harus ada
agar pembelajaran dapat berjalan, sedangkan aktor e-learning adalah
individu-individu yang melaksanakan pembelajaran e-learning. Konten e-learning
dapat berupa text-based content, multimedia-based content ataupun kombinasi
keduanya (text-based content dan multimedia-based content).
Aktor dalam
pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada pembelajaran
konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau tutor yang
membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran serta administrator
yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
Konten dan aktor memiliki hubungan yang sangat
erat, karena konten e-learning dibuat, disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh
aktor e-learning itu sendiri. Terdapat daur hidup (lifecycle) dalam konten
e-learning dan aktor adalah pusat dari daur hidup tersebut. Aktor berperan
dalam membua (create), menyimpan (archive), merawat (maintain) dan
mempergunakan (use) konten e-learning.
Setiawan (2014) melaporkankan bahwa Technology
Acceptance Model (TAM) telah mengalami ekstensi dengan memperhatikakan faktor
eksternal, yaitu keyakinan diri (self efficacy) dan tekanan sosial (sosial
influence) yang menjelaskan lebih lanjut dan penyebab dari kemudahan penggunaan
(Perceived Ease Of Use) dan tentang kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang
dimiliki pengguna teknologi. Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan
perilaku penerimaan teknologi adalah pengaruh sosial (social influence) atau
lebih spesifik disebut dengan psychological attachment.
Penelitian dilakukan dengan cara mencari data
sekunder yaitu studi literatur yang terdiri atas jurnal-jurnal karya ilmiah dan
penelitian, buku, dan artikel online di internet. Faktor-faktor dalam TAM yang
menjadi perhatian adalah sebagai berikut.
1. Portal Design
(PD) adalah antarmuka yang dapat membantu para pemakai dalam menggunakan sistem
secara mudah dengan mengurangi usaha dalam mengidentifikasi objek tertentu pada
layar atau penyediaan navigasi yang jelas antara layer yang satu dengan yang
lainnya.
2. E-resources
Organization (ErO) adalah tatacara sistem komputer sehingga dapat secara
efektif terintegrasi ke dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi tertentu,
dalam hal ini ialah pembelajaran.
3. Individual
Differences (ID) adalah faktor pribadi pengguna yang memiliki pengetahuan dasar
mengoperasikan komputer baik dari segi teknologi Sistem Operasi maupun
aplikasi-aplikasinya, lamanya penggunaan berbagai macam aplikasi sistem
e-learning sejenis, dan pengetahuan atas bahan ajar akan memberikan kepercayaan
diri dan kemudahan adaptasi sistem e-learning.
4. Social
Influence (SI) adalah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku
penerimaan melalui ketatan, identifikasi dan internalisasi.
5. Perceived Ease
of Use (PEoU) adalah tingkat kepercayaan bahwa sistem e-learning akan mudah
untuk dipakai dan terbebas dari kesulitan.
6. Perceived
Usefulness (PU) adalah tingkat kepercayaan bahwa penggunaan sistem e-learning
akan meningkatkan pencapaian pembelajaran.
7. Attitude Toward
Using (ATU) adalah sikap pengguna (user) ke arah menggunakan sistem e-learning.
8. Behavioral
Intention to Use (ITU) adalah minat
pengguna (user) ke arah berlanjutnya penggunaan e-learning yang dianggap
memberikan manfaat pada proses pembelajaran.
9. Actual System
Usage (ASU) adalah pengguna (user) benar-benar menggunakan e-learning secara
nyata karena merasakan manfaatnya.
Manfaat
E-learning menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah:
1. Penggunaan
E-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan
daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.
2. Meningkatkan
partisipasi aktif dari mahasiswa.
3. Meningkatkan
partisipasi aktif dari mahasiswa.
4. Meningkatkan
kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
5. Meningkatkan
kualitas materi pendidik dan pelatihan.
6. Meningkatkan
kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana
dengan perangkat biasa sulit dilakukan.
Kelebihan E-learning
Kelebihan
E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan,
visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 :
253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu
:
1. Lebih mudah
diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi,
suara, video.
2. Jauh
lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum
audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.
3. Jauh
lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok
bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
4. Tersedia
24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada
semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.
Kekurangan E-learning
Kekurangan E-learning menurut
L. Gavrilova (2006:354) adalah pembelajaran dengan model E-learning membutuhkan
peralatan tambahan yang lebih (seperti komputer, monitor, keyboard, dsb).
Kekurangan E-learning yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) sebagai berikut :
1. Kurangnya
interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri.
2. Kecenderungan
mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya membuat tumbuhnya
aspek bisnis/komersial.
3. Proses
belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
4. Berubahnya
peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional,
kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT
(information, communication, dan technology).
5. Tidak semua
tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah
tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
6. Kurangnya
sumber daya manusia yang menguasai internet.
7. Kurangnya
penguasaan bahasa komputer.
8. Akses
pada komputer yang memadai dapat menjadi masalah tersendiri bagi peserta
didik.
9. Peserta
didik bisa frustasi jika mereka tidak bisa mengakses grafik, gambar, dan video
karena peralatan yang tidak memadai.
10. Tersedianya
infrastruktur yang bisa dipenuhi.
11. Informasi
dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi sehingga penduan dan fitur
pertanyaan diperlukan.
12. Peserta
didik dapat merasa terisolasi.
Permasalahan :
1. bagaimana peran guru dalam mengatasi kekurangan dari
pembelajaran berbasis e-learning ?
2. apakah media pembelajaran e-learning dapat diterapkan
disemua mata pelajaran ?
3. apa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran
e-learning tidak berjalan dengan baik ?
4. bagaimana cara mengidentifikasi suatu mata pelajaran
dapat diterapkan pembelajaran berbasis e-learning ?
saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke-2, "apakah pembelajaran E-learning dapat diterapkan pada semua matapelajaran"
BalasHapusjawabannya tidak karena seperti yang kita ketahui Proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan E-learning tidak dapat disamakan dengan pelaksanaan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan secara konvensional dengan menggunakan metode tatap muka langsung, melainkan proses pembelajaran yang menggunakan metode online via internet. Jikalau diterapkan pada semua matapelajaran lantas bagaimana matapelajaran yang ada unsur hitung2an, itu akan sulit bagi siswa dalam memahami materi tersebut yang mana harus mempelajarinya dengan tatap muka langsung dan dijelaskan langsung oleh guru tersebut.
Saya akan menjawab permasalahan nomor 1
BalasHapusYaitu cara mengatasi kekurangan e learning
1. meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia/SDM Sekolah Dasar (Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan).
Kepala Sekolah Dasar dituntut memiliki kompetensi manajerial dalam hal mendayagunakan sumber daya sekolah untuk mengelola dan mengatur penggunaan fasilitas pendidikan secara efektif guna mendukung pelaksanaan pembelajaran, serta menempatkan personel yaitu guru dan karyawan dengan berlandaskan prinsip the right man on the right place,dalam hal ini terkait penerapan pembelajaran e-learning.
2. Kedua, meningkatkan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran e-learning. Sarana dan prasarana memang mutlak dibutuhkan agar proses pembelajaran e-learning menjadi optimal. Baik yang berupa komponen hardware (perangkat keras) maupun software (perangkat lunak). Komponen-komponen itu meliputi koneksi/ jaringan internet, komputer/ laptop, sistem, software e-learning, termasuk sarana dan prasarana pendukung.
3. Ketiga, mengatasi kendala kondisi geografis. Meskipun menjadi salah satu kendala utama khususnya dalam penerapan pembelajaran e-learning di Sekolah Dasar, namun kita tidak boleh berkecil hati dengan kondisi geografis kita yang memang memiliki wilayah yang sangat luas hingga ke pelosok pedesaan. Untuk membangun jaringan dengan kondisi geografis tersebut tentu membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang tidak sebentar.
4. Keempat, mengatasi kendala biaya. Besarnya biaya untuk penyelenggaraan pembelajaran e-learning, dari pembelian sarana dan prasarana, biaya operasional, proses pengaplikasian pembelajaran e-learning menyebabkan banyak instansi pendidikan, termasuk Sekolah Dasar belum mampu menyelenggarakan ataupun masih jauh dari optimal.
baiklah nadia saya akan menjawab permasalahan anda no 3 :
BalasHapusBerdasarkan hasil penelitian, guru merupakan faktor yang paling
penting dalam pelaksanaan pembelajaran, karena gurulah yang mengelola
faktor-faktor lain agar proses pembelajaran berjalan optimal. Begitu pula
untuk menerapkan e-learning, guru merupakan faktor penentu terhadap
diterapkannya e-learning. E-learning atau electronic learning yaitu
pembelajaran dengan menggunakan piranti elektronik melalui komunikasi
online (Aunurrahman, 2010:229). Berdasarkan teori tersebut untuk
menerapkan e-learning, seorang guru harus mampu menguasai penggunaan
TIK bahkan harus mampu mengakses internet. Namun guru-guru di sekolah
ini belum menguasai hal tersebut sehingga guru-guru di sekolah ini menjadi
salah satu kendala untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran
matematika.
SDM lain yang menjadi kendala untuk menerapkan e-learning
adalam siswa. Hal ini
ditunjukkan adanya respon yang baik dari siswa, siswa sering bertanya
kepada guru ketika mereka merasa kurang jelas tentang materi ajarbiasanya ketika pembelajaran guru menjelaskan sambil membawa alat peraga.
Sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang dijelaskan oleh guru.Akan tetapi dalam proses pembelajaran,peserta didik, masih mengandalkan kehadiran guru untuk menyampaikan materi,
belum cukup mampu untuk menggunakan media sebagai pengganti kehadiran
guru dalam menyampaikan materi kepada mereka. Untuk itu tidak hanya guru
yang menjadi faktor kendala untuk menerapkan e-learning.
Saya akan menjawab permasalahan 4. Yaitu bagaimana cara mengidentifikasi suatu mata pelajaran dapat diterapkan pembelajaran berbasis e-learning ?
BalasHapusJawabannya.
Semua Mata pelajaran dapat diterapkan dengan e learning... Karena e learning ini hanya metode yang bisa mengganti posisi guru sehingga tidak mempersempit ruang Dan waktu