Teori Pemrosesan Informasi Bantuan Media


Teori-teori pengolahan informasi memfokuskan perhatian pada bagaimana orang memperhatikan peristiwa-peristiwa lingkungan, mengkodekan informasi-informasi untuk dipelajari, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang ada dalam memori, menyimpan pengetahuan yang baru dalam memori, dan menariknya kembali ketika dibutuhkan. Dalam Baharuddin (2007:99) disebutkan bahwa information processing model memandang memori manusia itu seperti sebuah komputer yang mengambil atau mendapatkan informasi, mengelolanya, mengubahnya baik bentuk dan isi, kemudian menyimpannya, dan menghadirkan kembali pada saat dibutuhkan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa teori pemrosesan informasi merupakan model dalam teori kognitivisme yang mencoba menjelaskan kerja memori manusia dalam memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi.
Gredler (2013:227) menyebutkan bahwa ada dua asumsi pokok yang mendukung riset pemrosesan informasi, yaitu sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi serta pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam belajar. Terkait dengan asumsi tersebut maka perlu dibahas tentang hakikat sistem memori manusia dan organisasi pengetahuan dalam memori jangka panjang.
Konsepsi awal tentang memori manusia menganggap bahwa memori hanya sekedar tempat penyimpanan atau kolektor informasi yang pasif selama periode waktu yang lama. Tetapi, pada tahun 1960-an periset mulai memandang memori manusia sebagai sistem kompleks yang memproses dan mengorganisasikan semua pengetahuan kita (Gredler, 2013:227). Disebutkan pula oleh Santrock (2009:359) bahwa memori atau ingatan adalah penyimpanan informasi di setiap waktu.
Cara kerja memori manusia meliputi tiga macam sistem penyimpanan ingatan, yaitu memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short-term memory,) dan memori jangka panjang (long-term memory). Konseptualisasi umum memori manusia digambarkan oleh Gredler (2013:231) dalam gambar 1.1 berikut ini.


Proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Memandang memori manusia itu seperti sebuah komputer yang mengambil atau mendapatkan informasi, mengelolanya, mengubahnya baik bentuk dan isi, kemudian menyimpannya,  dan menghadirkan kembali pada saat dibutuhkan. Bagian penting mengenai memori yang berkaitan dengan teori pemrosesan informasi yaitu pengodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval). Pengodean adalah proses di mana informasi masuk ke dalam memori. Penyimpanan adalah penahan informasi di setiap waktu. Pemanggilan kembali berarti mengeluarkan informasi dari penyimpanan. Aliran informasi di seluruh sistem pengolahan informasi dikendalikan oleh proses control (eksekutif). 
1.  Sensory Memory
Sensory memory atau sensory register merupakan komponen pertama dalam system memori. Sensori memory menerima stimuli atau informasi dari lingkungan (seperti sinar, suara, bau, dan lain sebagainya) secara terus menerus melalui alat penerima (receptor) kita. Receptor disebut juga dengan alat-alat indera. Informasi yang diterima disimpan dalam sensory memory kurang lebih dua detik (Baharuddin, 2007:100).
Masih dalam Baharudin (2007:100) disebutkan bahwa keberadaan sensory memory memiliki dua implikasi dalam proses belajar. Pertama, orang harus memberikan perhatian pada informasi yang ingin diingatnya. Kedua, waktu mendapatkan atau mengambil informasi harus dalam keadaaan sadar. Setelah respon diterima oleh sensory memory, otak mulai bekerja untuk memberikan makna terhadap informasi atau ransangan tersebut. Proses ini disebut Perseption atau memersepsi. Persepsi (pengenalan pola) terjadi; yaitu proses pemberian makna terhadap sebuah input stimulus (Schunk, 2012: 231). mengacu pada kelekatan makna pada input-input lingkungan yang diterima melalu panca indera (Schunk, 2012: 244). Persepsi manusia terhadap informasi yang diterimanya berdasarkan realita obyek yang mereka tangkap dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Baharuddin, 2007:101)  Misalkan, bila ada tulisan seperti berikut ini,
Jika seseorang kita tanya huruf apakah itu, maka orang akan mengatakan itu huruf z, jika kita tanya angka berapakah itu, maka orang akan menjawab 2, jika orang yang kita tanya belum pernah mengenal sama sekali angka atau huruf maka, maka orang tersebut akan kesulitan memberi makna dan hanya menganggap itu hanyalah simbol/coretan yang tidak berarti.
Persepsi terhadap stimuli tidak seasli atau semurni stimuli sebenarnya, karena bisa dipengaruhi kondisi mental, pengalaman sebelumnya, motivasi-motivasi, pengetahuan, dan faktor lainnya (Baharuddin, 2007:101). Perhatian merupakan faktor (attention) penting dalam proses ini, Tidak semua stimuli dari lingkungan diterima manusia karena perhatian merupakan sebuah sumber yang terbatas (Schunk, 2012: 241). pada tahapan ini satu input dipilih untuk diberikan perhatian lebih lanjut berdasarkan tingkat aktivasinya yang tergantung kepada konteks (Schunk, 2012: 240). Jadi di sinilah peran proses kontrol (eksekutif) mengendalikan informasi mana yang akan dipilih untuk proses lebih lanjut.
2. Short-Term Memory (STM)
Short-term memory atau memori jangka pendek adalah sistem memori dengan kapasitas yang terbatas di mana informasi disimpan selama 30 detik, kecuali informasi tersebut diulang atau kalau tidak diproses lebih lanjut, karena jika diproses informasi bisa disimpan lebih lama (Santrock, 2009:364).
Short-term memory disebut juga sebagai working memory atau memori kerja. Baddeley (1993, 1998, 2000, 2001) dalam Santrock (2009: 365) menyatakan bahwa working memory seperti meja kerja pikiran tempat berlangsungnya banyak pemrosesan informasi. Working memory terdiri atas tiga komponen utama, yaitu putaran fonologis, working memory visual ruang, dan eksekutif sentral. Input dari memori sensori menuju putaran fonologis, di mana informasi tentang cara bicara disimpan dan pengulangan terjadi dan menuju working memory visual ruang, di mana informasi visual dan  ruang, termasuk imajinasi disimpan. Eksekutif sentral tidak hanya menggabungkan informasi dari putaran fonologis dan working memory visual ruang, tetapi juga dari memori jangka panjang (retrieval).
3. Long-Term Memory (LTM)
Long-term memory atau memori jangka panjang adalah jenis memori yang menyimpan banyak sekali informasi untuk periode waktu yang lama dalam cara yang relative permanen (Santrock, 2009: 366). Kapasitas memori jangka panjang manusia sangatlah mengejutkan dan efisiensi di mana individu-individu bisa mendapatkan kembali informasi sangatlah mengesankan. Menurut Baddeley (1998) dalam Schunk (2013:258) representasi pengetahuan dalam LTM tergantung pada frekuensi dan kontinguitas. Makin sering suatu fakta, peristiwa, atau ide dijumpai, makin kuat representasinya dalam memori. Selain itu, dua pengalaman yang terjadi berdekatan waktunya akan cenderung dihubungkan dengan memori sehingga ketika salah satunya diingatkan yang satunya akan teraktifkan. Maka, informasi dalam LTM direpresentasikan dalam struktur-struktur asosiatif. Asosiasi-asosiasi ini sifatnya kognitif, tidak seperti asosiasi dalam teori pengkondisian yang sifatnya behavioral (stimulus dan respon).
permasalahan :
1. apa yang menjadi faktor suatu pemrosesan media tidak berlangsung dengan baik ?
2. pada Aliran informasi di seluruh sistem pengolahan informasi dikendalikan oleh proses control (eksekutif). apa yang berperan aktif dalam proses pembelajaran ?
3.  bagaimana cara agar peserta didik dapat berfokus pada informasi yang diberikan ?
4. apa indikator suatu media berhasil di terapkan ? 

Komentar

  1. sayaz zakan menjawab permaslahan ke 3
    Berikut ini akan dibeberkan 15 buah tips yang dapat anda coba gunakan saat mengajar di kelas anda,

    Tips 1. Pancing ketertarikan siswa dengan cerita singkat
    Siapa yang tidak suka mendengar cerita? Siswa anda pasti suka.
    Tips 2. Ajukan pertanyaan yang bersifat open ended
    Pertanyaan dapat membantu anak-anak atau siswa berpikir. Agar semua siswa dapat berpikir dan menjawabnya, berikanlah pertanyaan yang bersifat open ended (terbuka).
    Tips 3. Berikan hanya satu macam tugas pada suatu sesi pembelajaran
    Beberapa siswa mungkin dapat menghandel beberapa tugas sekaligus dan memanajemennya dengan baik selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Akan tetapi sebagian besar siswa sebenarnya kesulitan melakukan tugas yang lebih dari satu.
    Tips 4. Berikan arahan yang jelas untuk mengerjakan tugas
    Beberapa guru seringkali menganggap suatu tugas mudah dikerjakan walaupun hanya dengan petunjuk singkat pada lembar kerja.pada kenyataannya, siswa seringkali tidak mengerti apa maksus dari petunjuk yang diberikan pada tugas tersebut. Karena itu, mengkonfirmasi apakah mereka memahami dengan jelas apa yang ditugaskan kepada mereka sangat penting. Dan, yang jauh lebih penting lagi, siswa seringkali membutuhkan penjelasan dan arahan tambahan tentang tugas yang dikerjakan.
    Tips 5. Lakukan kontak pandang
    Saat siswa-siswa mulai mengendur perhatian terhadap pembelajaran. Gunakan kontak pandang kepada setiap siswa anda. Terutama saat anda berbicara kepada mereka secara terarah (individual, siswa tertentu)ataupun saat anda berbicara kepada seluruh kelas. Sapukan pandangan mata anda secara bergantian dan berputar ke seluruh bagian kelas, ke seluruh siswa anda sedemikian rupa sehingga mereka merasa diajak berbicara.
    Tips 6. Berkelilinglah ke seluruh bagian kelas
    Beberapa guru memiliki tipe kurang dinamis dalam pergerakan di dalam kelasnya. Guru-guru model ini cenderung lebih banyak berdiri di depan atau duduk di kursinya sambil mengajar. Ini bukan guru yang baik apabila ingin dengan mudah menjaga perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. Cara yang terbaik adalah, guru harus berkeliling ke seluruh bagian kelas. Apabila mereka sedang mengerjakan tugas, guru lebih-lebih lagi harus berkeliling.
    Tips 7. Sesekali berbicaralah dari arah pojok bagian belakang kelas
    Sebenarnya masih terkait dengan tips nomor 6 di atas, guru selama berkeliling ke seluruh bagian kelas dapat berbicara kepada seluruh anggota kelas secara kelas dari bagian kelas manapun. Tidak harus selalu berbicara dari arah depan kelas.
    Tips 8. Gunakan teknik pemusatan
    Saat suasana kelas sedang ribut atau saat mereka asyik mengerjakan tugas tertentu, tetapi anda perlu untuk mengutarakan sesuatu kepada semuanya, maka anda dapat menggunakan teknik pemusatan.
    Tips 9. Tuliskan kata-kata kunci pembelajaran anda di papan tulis
    Saat anda mempresentasikan suatu materi pembelajaran, siswa harus fokus pada kata-kata kunci penting dalam materi.
    Tips 10. Variasikan intonasi, volume, mimik, dan gesture anda saat berbicara
    Saat berbicara atau bercerita, gunakanlah keterampilan berkomunikasi anda sebagai guru.
    Tips 11. Gunakan warna pada tulisan anda di papan tulis
    Saat menuliskan sesuatu di papan tulis, gunakan spidol berwarna-warni.
    Tips 12. Hapus tulisan-tulisan sesi pembelajaran anda sebelumnya
    Jangan biarkan papan tulis anda penuh.
    Tips 13. Jika anda menggunakan power point sebaiknya buatlah ppt semenarik mungkin
    Tips 14. Berikan penghargaan kepada siswa-siswa dan seluruh siswa di dalam kelas anda
    Berikan tepuk tangan atau kata-kata yang membesarkan hati mereka saat siswa melakukan tugasnya dan mengikuti pembelajaran anda dengan baik.
    Tips 15. Tunjukkan kesabaran dan ketulusan anda

    BalasHapus
  2. Saya akan membahas permasalahan ke 1 yaitu :


    A. Faktor Internal

    Faktor internal adalah faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri. Seperti : Gangguan fisik seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan alat panca indra; Ketidak seimbangan mental; Kelemahan emosional; Kelemahan yang disebabkan oleh perasaan dan sikap yang salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran, malas dan sering bolos

    . B. Faktor Eksternal

    Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang timbul dari luar individu, seperti : Sekolah; Sifat kurikulum yang kurang fleksibel, terlalu berat beban belajar; (murid) dan mengajar (guru); metode mengajar kurang memadai, kurang media pembelajaran; Keluarga (rumah) Keluarga yang kurang utuh atau kurang harmonis, keadaan ekonomi, dan sikap orang tua tidak memperhatikan pendidikan anaknya

    BalasHapus
  3. Baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan keempat menurut saya hal itu dapat diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran selain itu apabila semua siswa telah menguasai materi dan juga di lihat dari efisiensi dan juga efektifitasnya

    BalasHapus
  4. Saya akan menjawab pertanyaan 2 yaitu keterlibatan guru Dan siswa. prestasi belajar siswa ini diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presentasi Pengembangan e - learning dalam pembelajaran kimia

Revolusi Industri Era 4.0