Revolusi Industri Era 4.0
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika
tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah
kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah
berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad
setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita
Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.
Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua
ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam
(combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat
telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara
signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan
kemunculan teknologi digital dan internet.
Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat,
seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola
baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir
begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent.
Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban
dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini,
ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan
menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan
oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di
seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa
pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan
bukan yang besar memangsa yang kecil.
Oleh sebab itu, perusahaan harus
peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di
tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan
untuk melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam
laporan berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang
memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif
teknologi.
Pendidikan 4.0 (education 4.0) adalah istilah umum yang
digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara
untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam
pembelajaran. Pendidikan 4.0 adalah
fenomena yang merespons kebutuhan munculnya revolusi industri keempat (4 IR)
atau (RI 4) dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi,
memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi
baru. Revolusi Industri Keempat (4IR) diumumkan di Davos pada tahun 2016,
berbagai elemen terkait dengan dimensi baru ini telah berlangsung selama hampir
satu dekade. Istilah ini mendapat publisitas luas ketika Kanselir Jerman Angela
Merkel disorot di Hanover Fair pada tahun 2011, kemunculan Industri 4.0 membuat
manufaktur Jerman lebih kompetitif.
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan anak didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengunggulimengungguli kecerdasan mesin sekaligus bijak menggunakan mesin untuk kemaslahatan. Kondisi yang belum baik atas performa guru disadari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang baru saja usai menghasilkan rekomendasi perbaikan kuantitas dan kualitas guru terkait dengan ketersediaan, peningkatan profesionalisme, dan perlindungan serta penghargaan guru. Tentu, peningkatan profesionalisme guru tidak dapat dilepaskan dari tantangan revolusi industri 4.0.
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan anak didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengunggulimengungguli kecerdasan mesin sekaligus bijak menggunakan mesin untuk kemaslahatan. Kondisi yang belum baik atas performa guru disadari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang baru saja usai menghasilkan rekomendasi perbaikan kuantitas dan kualitas guru terkait dengan ketersediaan, peningkatan profesionalisme, dan perlindungan serta penghargaan guru. Tentu, peningkatan profesionalisme guru tidak dapat dilepaskan dari tantangan revolusi industri 4.0.
Menristekdikti
menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan
dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya
saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan
tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan
mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology
(OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek
fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang
kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological
literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang
adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan
transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai
diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance
learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber
University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok
daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti
serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi
industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan
infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk
menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi
Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas
dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang,
LPNK, Industri, dan Masyarakat.
5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk
meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis
teknologi.
permasalahan
1. bagaimana kekurangan dan kelebihan dari revolusi industri 4.0 ?
2. bagaimana pendapat anda tentang revolusi industri sebagai calon pendidik ?
3. apakah revolusi industri akan efektif jika diterapkan didalam pendidikan ?
4. apa saja aspek yang mempengaruhi suatu revolusi industri sangat bermanfaat dalam pendidikan ?
permasalahan
1. bagaimana kekurangan dan kelebihan dari revolusi industri 4.0 ?
2. bagaimana pendapat anda tentang revolusi industri sebagai calon pendidik ?
3. apakah revolusi industri akan efektif jika diterapkan didalam pendidikan ?
4. apa saja aspek yang mempengaruhi suatu revolusi industri sangat bermanfaat dalam pendidikan ?

Saya akan menjawab pertanyaan ketiga apakah revolusi industri akan efektif jika diterapkan didalam pendidikan ?
BalasHapusYaitu, efektif karena Adopsi teknologi baru kedalam Revolusi Industri-4, juga ditandai dengan kemampuan SDM Indonesia untuk melakukan berbagai terobosan inovasi, meningkatkan kemampuan untuk menggunakan informasi dari internet dengan optimum,
Saya akan membantu menjawab permasalahan nomor 4
BalasHapusSesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.
Inilah salah satu keuntungan dari revolusi industri di bidang pendidikan
Saya akan menjawab permasalahan nomor 1
BalasHapusRevolusi Industri 4.0 memang membawa beberapa akibat negatif, seperti media sosial pembawa berita bohong, juga pergeseran model-model bisnis yang mengakibatkan beberapa jenis pekerjaan tidak lagi dibutuhkan.
Namun juga banyak kesempatan positif yang bisa kita pakai untuk menjadikan sebagai pemenang. Apabila kita bisa memanfaatkan peluang-peluang ini.
Teknologi Cyber-Physical, misalnya ditandai dengan munculnya Autonomous Vehicle, mobil tanpa awak. Three-D-Printing, yang bisa membuat barang secara sempurna dengan cara yang cepat dan murah dan Advanced Robotic yang bisa mengambil alih peran manusia.
Hal kedua yakni Internet-of-Things, Big Data, Artificial Intellegence dan Virtual Reality yang ternyata terus berkembang, yang mulai diaplikasikan dalam Block-chain juga dalam Crypto-currency yaitu mata uang yang tanpa bank sentral, yang saat ini sedang diperebutkan banyak orang.
Hal ketiga yang menjadi perhatian presiden yakni perkembangan bio-teknologi termasuk penggunaan computing power dalam Ilmu Syaraf, Teknologi Edit-DNA untuk mengembangkan pengobatan spesifik orang-per-orang berdasarkan DNA-nya.